Written by Ester Pandiangan
Thursday, 27 August 2009 10:08

“Saya adalah orang yang suka gelisah, cemas, rindu dengan masingmasing rasa tadi yang berbeda lagi. Bisa rindu mengendarai sepeda model lama bahkan rasa lain yang tak terpikirkan oleh orang pada umumnya. Dan menulis adalah teman untuk menuangkan segala perasaan tersebut…,” ujar Sukma, Ketua Forum Lingkar Pena Sumatera Utara.

Yup, banyak cara yang dilakoni orang untuk mengekspresikan dirinya. Salah satunya adalah menekuni dunia tulis-menulis. Seperti yang dilakukan oleh komunitas penulis yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Sumatera Utara. Menulis sudah menjadi bagian dari hidup para anggotanya. Tak nikmat rasanya bila satu hari dilewatkan tanpa menggoreskan pena di selembar kertas.

Secara global, Forum Lingkar Pena (FLP) telah menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Bahkan mancanegara seperti di Hongkong, Mesir dan Amerika Serikat.

Di Sumatera Utara sendiri , FLP berdiri sejak tahun 2000 dan bermarkas di Jalan Sei Deli Gang Sauh Nomor 18
Medan. Mereka menamainya dengan Rumah ‘Cahaya’ yang berarti ‘Rumah Baca dan Menghasilkan Karya’.

Ya… dalam rumah kecil tersebut ada beberapa rak yang berisikan buku-buku yang siap sedia untuk dibaca oleh anggota dan masyarakat luar. Sesuai tujuan FLP, mengenalkan kepada masyarakat untuk mencintai baca dan menulis.

Sehingga FLP tak hanya berkegiatan “membangun diri sendiri” tetapi juga masyarakat. Salah satu contohnya adalah menggelar aktivitas mendongeng kepada anak-anak sekitar. Cerita bisa didapat dari buku-buku ataupun mereka karang sendiri.

Menghasilkan karya, sudah barang tentu menjadi menu wajib bagi anak-anak FLP. Walaupun hanya sepotong puisi dan tidak begitu bagus mungkin tetap berkarya adalah prinsip mereka. Anak-anak FLP percaya untuk menjadi profesional tak lain dan tak bukan adalah dengan latihan. Seperti Thomas Alfa Edison si penemu bola lampu yang dalam eksperimennya kesekian ribu kali baru mencapai keberhasilan.

Hingga sekarang FLP Sumatera Utara telah memiliki lebih kurang 30 anggota aktif. Dan sebagian besar dari karya mereka sudah banyak dimuat di media lokal maupun nasional. Misalnya saja Nihayah Rambe dan Anugerah Roby Syahputra yang berhasil menembus Majalah Sabili. Win RG yang selain aktif mengisi kolom-kolom surat kabar juga telah menelurkan buku berjudul ‘Bintang’. Juga Sukma, Fadhli yang namanya sudah tak asing lagi di media lokal serta penulis-penulis lainnya.

Tanpa Sengaja
Tak banyak yang tahu kalau sekumpulan anak-anak FLP bergabung di komunitas ini berawal dari sekadar kumpul-kumpul belaka. Seperti yang diakui Sukma. Mahasiswa Psikologi UMA ini bercerita, ia ikut bergabung dalam forum ini mulanya hanya untuk mengisi kekosongan anggota pria yang memang sangat minim di FLP. Lama-kelamaan, penulis yang menggemari karya-karya Seno Gumira Ajidarma ini mulai jatuh cinta dengan rutinitasnya di FLP.

“Saya merasa FLP sudah menjadi rumah kedua saja,” tutur Sukma.
Fadhli juga tak jauh beda, alumni FMIPA Unimed ini mengawali rutinitasnya di FLP sebagai “seksi bantu-bantu” di ulang tahun ketiga FLP yang digelar beberapa waktu lalu di Gelanggang Mahasiswa USU.
“Setelah kenal dan rutin ikut pelatihan-pelatihannya ternyata semua menyenangkan dan hingga sekarang saya jalani,” kata Ketua Divisi PSDM (Pengelolaan Sumber Daya Manusia ) FLP ini.

Tulisan yang Menginspirasi
Kaya pengalaman? Sudah pasti didapat anak-anak FLP ini. Seperti Win RG yang kerap disapa ‘Mbak Win’ yang telah berhasil membeli sepeda motor dan laptop dari menulis buku ‘Bintang’ yang diluncurkan tahun 2000 lalu di Taman Budaya. Dan yang paling lucu adalah menanggapi tingkah-polah pembacanya yang suka atau tak suka dengan ending novelnya.

“Banyak lho pembaca yang menelepon dan tanpa ba-bi-bu nyerocos tentang novel saya,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai guru di sekolah dasar bertaraf internasional ini.

Karena itu jualah Mbak Win menelurkan novel ‘Bintang Jilid II’ yang sekarang sedang dalam proses pembuatan. “Kepuasan seorang penulis adalah ketika tulisannya tak hanya menghibur tetapi juga bermanfaat bagi pembaca,” ujarnya.

Ia mencontohkan novel karya Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik berjudul Ayat-ayat Cinta di mana
seorang pembacanya memutuskan mengenakan jilbab usai menuntaskan novel tersebut.
Andrea Hirata dalam “Laskar Pelangi’ yang menginspirasi anak-anak muda agar menghindari narkoba. Dan dari respons pembaca terhadap novelnya Mbak Win melihat ‘Bintang’ memberikan pencerahan kepada orangtua ataupun calon orangtua bagaimana memahami dan mendidik anak.

Fadhli juga menyuarakan pendapat yang sama. “Tulisan itu nggak sekadar nyastra tapi harus ada ‘roh’ yang membuat pembaca menggeleng-gelengkan kepala sambil berujar ‘oh iya ya’,” ujar penggemar penulis Pipiet Senja ini.

source: http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=15951:menyulam-tulisan-bersama-forum-lingkar-pena&catid=59:hobi&Itemid=67