Oleh : Eka Diyah Ardiyati

“Ini Pak Mubin, dana pensiun pejuangnya,” ujar seorang petugas dari balik loket. Seorang pria paruh baya mengenakan baju batik pudar menuju loket. Pria paruh baya itu tersenyum lebar, memamerkan gigi-giginya yang telah geripis dimakan usia.

Dihitung lagi tujuh lembar uang seratus ribu yang baru saja diterimanya dari petugas dengan tangan keriputnya yang kasar. Lalu dimasukkan uang itu ke saku celana panjang hitam usang yang dikenakannya.

pejuang-kemerdekaan-45

“Makasihya Nak…” balasnya pada petugas bank tersebut sambil menyunggingkan senyum lalu ia segera berlalu menuju parkiran. Sebuah sepeda masa lampoe dengan karatnya menyembul dari balik kulit cat yang terkelupas telah menunggunya di sana. Mubin segera mengeluarkan sepeda bututnya dari deretan kereta yang berjejer rapi. (lagi…)

Oleh: Anugrah Roby Syahputra

So leave our land
Our shore, our sea
Our wheat, our salt, our wound

Kalimat di atas adalah cuplikan puisi karya Mahmoud Darwis, penyair kebangsaan Palestina yang pernah dibicarakan oleh Knesset (Parlemen Israel) tahun 1988. Ia dituduh telah menyuruh Yahudi angkat kaki dan hengkang meninggalkan Israel. Puisi berjudul Between the Passing Words itu hanyalah salah satu dari sekian banyak judul lain yang beraroma perjuangan. Ya, perjuangan merebut tanah air yang hilang. Lelaki yang lahir di Desa Barwa, dekat Akko itu dikenal luas khalayak internasional sebagai suara nyaring Palestina untuk kemerdekaan. Sebab, ia dan keluarganya –sebagaimana nasib orang Palestina lainnya- harus terusir dari negerinya sendiri pada tahun 1948. Maka baginya menulis adalah pembelaan atas kehormatan. Tetesan ujung pena ia sebut sebagai “perlawanan”.

Catatlah!
Saya adalah orang Arab
Dan nomor identitas saya lima puluh ribu (lagi…)

Oleh : Nurul Fauziah

Pemandangan Unik

Ada pemandangan yang unik setiap sore di sepanjang jalan yang sering saya lewati sepulang mengajar mengaji yakni melihat sekelompok anak—mungkin sekitar tiga atau lima orang yang ramai-ramai berlari mengejar layang-layang putus. Satu hal unik dari yang terunik lainnya yang hanya terjadi di Indonesia tercinta ini selain istilah tarik tiga saat mengendarai sepeda motor, mudik ke kampung halaman saat lebaran, naik odong-odong dan lain sebagainya.

layang-layang

Kadang saya suka tak habis pikir. Apa asyiknya mengejar layang-layang putus?. Padahal harga layang-layang tak begitu mahalnya—istilahnya tak samapi jual tanah, untuk ukuran sekarang mungkin harganya sekitar lima ratus perak sampai seribu perak, tidak sebandingnya dengan capeknya berlari hingga kiloan meter, belum lagi buat beli plester untuk mengobati kaki yang lecet dan berdarah akibat terantuk batu. (lagi…)

Written by Ester Pandiangan
Thursday, 27 August 2009 10:08

“Saya adalah orang yang suka gelisah, cemas, rindu dengan masingmasing rasa tadi yang berbeda lagi. Bisa rindu mengendarai sepeda model lama bahkan rasa lain yang tak terpikirkan oleh orang pada umumnya. Dan menulis adalah teman untuk menuangkan segala perasaan tersebut…,” ujar Sukma, Ketua Forum Lingkar Pena Sumatera Utara.

Yup, banyak cara yang dilakoni orang untuk mengekspresikan dirinya. Salah satunya adalah menekuni dunia tulis-menulis. Seperti yang dilakukan oleh komunitas penulis yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Sumatera Utara. Menulis sudah menjadi bagian dari hidup para anggotanya. Tak nikmat rasanya bila satu hari dilewatkan tanpa menggoreskan pena di selembar kertas. (lagi…)

Cerpen oleh Sukma

Kebetulan, seusai seorang lelaki tergopoh-gopoh datang ke rumahku sepagi tadi, selepas subuh bahkan belum pun subuh, ada kabar baru yang biasa aku dengar.

“Wak Diyah meninggal, Pak. Tadi malam jam tengah dua belas.” “Oh, ya. Nanti saya siapkan semuanya. Nisannya juga ?” ‘Tak usah, biar anak remaja mesjid saja yang urus.” Lelaki itu segera berlalu.

Tidak ada yang tahu sejak kapan aku mulai suka menanam jenazah. Yang jelas, ketika Abah Syamsul tengah di panggil Tuhan, tiada pula yang setuju diangkat mengganti jabatannya, penggali kubur.

Aku juga tidak sepakat ketika orang-orang menunjukku akan hal itu. Kebetulan ini mufakat para tetua-tetua kampung. Tak enak hati sekiranya membantah, meski halus.

soul

(lagi…)

Puisi oleh Selvi Rani

Telah kusembunyikan
sepotong bulan dalam ranselku
biar saja malam sepi
dan kau mencari-cari

tapi, sampai dia lelap
di gendonganku
tak juga kulihat kau tengadah
dan menyadari,
dia tak lagi tergantung di sana

Oleh: Eka Diyah Ardiyati

Adakah hati yang tak memiliki bianglala?
Rasanya tak ada… Karena fitrah setiap hati mengukir pundi-pundi penuh rindu
Segores demi gores meninggalkan jejak warni dalam kisah yang membersamai
Hingga terukirlah sebuah bianglala di hati

CLOUDS1

Bianglala yang muncul setelah gerimis di langit jiwa
Bianglala yang tersenyum bersama mekar bunga-bunga di sudut musim
Tak kan ada seorang pun yang mampu menghapus taswirnya dari bilik hati
Pun ketika ia datang dari sebuah noda

Karena bianglala teramat indah untuk dihapus
Dan teramat mahal untuk dilukis lagi (lagi…)

Film ini menggambarkan perjuangan orang kecil yang rindu naik haji.

[gallery]

Mak menundukkan kepala, merayapi daster batik kusam yang dipakainya. Tidak lama, sebab satu pikiran mencerahkan wajah perempuan itu lagi.
“Masjidnya bagus di sono ya, Zen? Lampunya banyak,” Mak terkekah.
“Eh, berape sekarang ongkosnya, Zen?”
“ONH biasa atau plus, Mak?”
Mak tertawa. Beberapa giginya yang ompong terlihat.
“Kagak usah plus-plusan. Mak kagak ngerti.”
“Kalo kagak salah dua ribu tujuh ratusan.”
“Murah itu!”
Kali ini Zen tertawa.
“Pakai dolar itu, Mak. Kalau dirupiahin mah dua puluh tujuh jutaan.”
Suara riang Mak kontan meredup, “Dulu sih kita punya tanah. Tapi keburu dijual
waktu Bapak sakit.”
Beberapa saat Mak hanya menghela napas panjang. Suaranya kemudian terdengar
seperti bisikan, “Mak pengin naik haji, Zen. Pengin.” (lagi…)

Ije

Mungkin sebagian besar rekan-rekan FLP sudah mengenal Mbak satu ini, yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum FLP periode 2009-2013. Namun biar lebih kenal dan dekat, yuk kenalan lebih jauh… (kan katanya tak kenal maka tak sayang, ta’ sayang maka ta’ lamar… *humor jadul ;) *)

salam,
Dee

========
Setiawati Intan Savitri, dikenal juga dengan nama pena Izzatul Jannah. Mbak yang biasa disapa dengan panggilan ”Intan” atau ”I-Je” ini lahir di Jakarta, 12 April 1972. Mbak I-Je termasuk aktivis awal FLP. Beliau adalah Ketua FLP Solo periode 1998-2001, kemudian menjadi Ketua FLP Wilayah Jawa Tengah periode 2001-2005. Pada tahun 2005 Mbak I-Je terpilih sebagai salah satu anggota Majelis Penulis FLP, periode 2005-2009. Kebayang kan lumayan ”karatan”nya beliau di FLP…? :D (lagi…)

Cerpen : Ragdi F. Daye
(Peraih Anugerah Pena 2009 Kategori Cerpen Terpuji dan dimuat di Koran Tempo edisi 25 Februari 2007)

Kau tampak berusaha untuk tersenyum. Meneguk teh manis hangat yang kusuguhkan dengan canggung. Gerai rambutmu jatuh ke pipi. Aku dapat melihat rasa bersalah di kedua matamu yang beberapa kali mengerjap-ngerjap resah.

Di luar, hujan turun kian deras. Orang-orang lari bergegas. Seliweran motor dengan pengendara berselubung mantel, bersekutu dengan mobil-mobil mencipratkan genangan air di ceruk jalan. Petang yang basah. Dan redup, seperti wajahmu yang gugup.

“Kau tak suka kuajak ke sini?”

Sekali lagi bibirmu bertaut rapat untuk ukirkan segaris senyum.

“Dingin-dingin begini enaknya makan yang panas-panas, bukan?”

Bangku-bangku sudah hampir penuh. Bau lokan dan daging bakar terbang ke seluruh ruangan bersama udara yang dingin mengundang lapar. Suara celoteh pengunjung berpadu dengan riuh hujan.

“Minum apa?”

“Teh ini saja.”

“Tak ingin yang lain? Jus pokat atau cappuccino?”

“Tidak. Tidak usah. Ini saja sudah cukup.”

“Ayolah. Dingin-dingin begini makan sate dengan cappuccino sungguh enak.”

Kau menggeleng. Wajahmu semakin pudar. (lagi…)

Halaman Berikutnya »