Oleh : Eka Diyah Ardiyati
“Ini Pak Mubin, dana pensiun pejuangnya,” ujar seorang petugas dari balik loket. Seorang pria paruh baya mengenakan baju batik pudar menuju loket. Pria paruh baya itu tersenyum lebar, memamerkan gigi-giginya yang telah geripis dimakan usia.
Dihitung lagi tujuh lembar uang seratus ribu yang baru saja diterimanya dari petugas dengan tangan keriputnya yang kasar. Lalu dimasukkan uang itu ke saku celana panjang hitam usang yang dikenakannya.

“Makasihya Nak…” balasnya pada petugas bank tersebut sambil menyunggingkan senyum lalu ia segera berlalu menuju parkiran. Sebuah sepeda masa lampoe dengan karatnya menyembul dari balik kulit cat yang terkelupas telah menunggunya di sana. Mubin segera mengeluarkan sepeda bututnya dari deretan kereta yang berjejer rapi. (lagi…)

















